Deskripsi
Pada Agustus 2026, Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program PLTS 100 GW untuk meningkatkan pemanfaatan energi surya sekaligus upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan mengintegrasikan program Koperasi Desa Merah Putih untuk memenuhi 80 GW yang terpasang pada 80.000 koperasi desa yang tersebar di seluruh Indonesia. Integrasi ini membuka peluang bagi koperasi untuk mengembangkan usaha layanan energi sesuai kebutuhan dan kesiapan masing-masing wilayah.
Dalam praktiknya, pembangunan PLTS dilaksanakan melalui berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, pengadaan barang, konstruksi & instalasi, serta operasi & pemeliharaan (O&M). Tahapan pembangunan tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi KDMP selain sembako, apotek, klinik kesehatan, dan usaha lain yang masuk ke dalam rencana KDMP. Kegiatan ini juga bukan hanya mampu memberikan keuntungan bagi koperasi, namun juga membuka lapangan kerja baru di desa. Studi IESR memproyeksikan bahwa teknisi dan tenaga kerja non-professional mencakup 90% kebutuhan tenaga kerja pada fase konstruksi dan instalasi, serta 64% pada fase O&M.
Kebutuhan akan tenaga kerja ahli belum sesuai dengan ketersediaan di lapangan. ADB menemukan bahwa kurangnya tenaga ahli lokal menimbulkan masalah pada pengoperasian di sejumlah pembangkit energi terbarukan skala kecil di Indonesia. Namun, tenaga terampil untuk PLTS saat ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Indonesia bagian barat padahal PLTS di desa membutuhkan tenaga lokal yang tersedia dekat dengan lokasi proyek. Oleh karena itu, penguatan kapasitas melalui pelatihan sangat krusial untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal yang handal.
Kesiapan tenaga kerja juga tidak hanya dapat dibangun melalui pelatihan saja. Penelitian terhadap empat sistem pompa air bertenaga surya di Gunungkidul, yang melibatkan 275 penerima manfaat dan 11 aktor lokal, menemukan bahwa 50,6% responden menilai pelatihan awal belum cukup untuk memungkinkan pengelola menangani kerusakan secara mandiri. Temuan tersebut memperkuat pentingnya pengalaman praktik dan bantuan teknis setelah pelatihan. Analisis serupa juga ditemukan ADB bahwa keterampilan lulusan pelatihan belum sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pembangkit listrik, terutama energi terbarukan4.
Program peningkatan kapasitas teknisi koperasi desa telah dilaksanakan oleh ZonaEBT melalui program Sinergi Energi Terbarukan untuk Rakyat (SINAR). Melalui program ini, 42 dari 50 peserta pelatihan, dengan latar belakang pendidikan yang beragam, berhasil mendapatkan sertifikasi kompetensi PLTS.
